Jumat, 08 Maret 2013

My Love is Too Strong


Ini tulisan perdana ku di blog ini. Awalnya, aku bingung.. apa yang harus aku tulis ? aku tak punya ide apapun yang dapat aku tuangkan dalam sebuah tulisan. Namun, aku sadar… lewat tulisanlah aku mampu menuangkan segala asa, pikiran, dan keluh kesah yang sudah hampir membuat otakku meledak layaknya bom yang menewaskan ratusan orang di Palestina..  terlalu berlebihan memang..
Baiklah,, langsung saja..
Aku seorang mahasiswi jurusan bahasa Inggris di suatu perguruan tinggi siap negeri.. awalnya, tak ada sedikit keinginan pun untuk mengenyam pendidikan di universitas ini.. ya, aku punya ego dan keinginan tinggi untuk kuliah di suatu universitas yang dipandang “wah” oleh orang, seperti UI, UNPAD, UPI, dan perguruan tinggi negeri lainnya. Namun, nasib berkata lain yang mengharuskan aku mengeyam pendidikan di universitas yang tidak sedikit pun aku lirik dan bahkan sempat aku kecam ini.. namun, universitas inilah yang menjumpakan aku dengannya..
Tak sedikit pun terpikirkan olehku untuk mendapatkan seorang kekasih di perguruan tinggi, yang aku gambarkan hanyalah kuliah, beasiswa, dan lulus dengan IPK tinggi lalu melanjutkan ke S2 ke perguruan tinggi negeri yang aku inginkan sejak awal.. namun, mungkin ini sudah ditakdirkan oleh-Nya, aku berjumpa dengan seseorang yang (mungkin) akan mendampingi hidupku..
Kita memang sekelas, namun tak sedikit pun pernah berbincang, sebelum kejadian itu. Saat itu aku memutuskan untuk mengikuti organisasi dan ternyata dia pun ikut serta dalam organisasi itu, yang mengharuskan kita bertemu dalam satu kelas saat placement test. Menurut pengakuannya dia tertarik kepadaku saat pertama bertemu, yang sebenarnya aku pun merasakan hal yang sama. Namun bedanya, aku langsung tak menggubris perasaan yang orang sebut “love at the first sight”.
Berjalannya waktu, dia pun menyatakan perasaannya. Aku memang tak heran dia menyatakan itu, karena dari gerak geriknya pun aku dapat merasakan kalau dia menyukaiku. Namun tetap saja untuk menjalin sebuah hubungan itu perlu pemikiran yang matang, terlebih lagi kita satu kelas. Seiring berputarnya waktu dan satu pertengkaran antara kami yang membuat dia meminta aku menjadi wanitanya, dan anehnya aku pun hanya menjawab “baiklah kalau itu maumu”.
Saat ini, kami telah menjalin hubungan selama 1 tahun 4 bulan. Kemana pun aku pergi, dia selalu menemaniku. Ya, aku memang sangat merasakan ketulusannya. Dia rela melakukan apa pun untukku. Inilah yang membuat orang berpikir kami pasangan yang paling romantis dan serasi. Dimanapun ada aku, disitu ada dia.  Bahkan dimana pun kami berada, entah di kelas, di organisasi, dan di tempat lainnya mereka menyebut kami “best couple”. Namun, hubungan kami tak seindah yang mereka kira.
Jujur, untuk masalah internal seperti perselingkuhan, kejujuran, kepercayaan dan lainnya tak ada sedikit pun di dalam hubungan kami. Dari awal hingga sekarang, kami tak pernah menyembunyikan sedikit pun hal dalam hubungan kami, terlebih dia orang yang tidak memiliki teman perempuan banyak, perempuan yang dia kenal adalah temanku, dan dia bukan tipe orang yang menjalin komunikasi dengan perempuan lain di luar jalur perkuliahan dan organisasi. Namun, tak ada gading yang tak retak. Tak ada hubungan yang selalu berjalan mulus. Masalah kami muncul dari luar. Ya.. orang tua.
Orang tuaku mengizinkan hubungan aku dengannya dengan syarat menjaga kepercayaan mereka. Namun, tidak dengan orang tuanya. Hal ini berawal ketika dia menyatakan ingin menikahiku. Ya, ini memang keinginan kami berdua untuk segera menikah untuk menghindari sesuatu hal yang tak diharapkan. Terjerumus ke dalam jurang kenistaan. Bukannya tanggapan positif yang dia terima, justru sebaliknya. Bahkan, dia sempat dituduh telah menyentuhku karena ingin segera menikahiku. Untunglah, dia dapat menjelaskan bahwa dia tidak pernah sekali pun menyentuhku. Namun, permasalahan tidak hanya disitu, dia menyatakan padaku bahwa orang tuanya menginginkan hubungan kami diakhiri, bahkan untuk berteman pun kami tak bisa. Sakit hati tentunya, menangis iya. Namun, dia tetap meyakinkanku bahwa dia akan tetap melamarku setelah lulus. Namun, siapa yang akan jamin bahwa perasaan kita tak akan berubah? Dia hanya meyakinkanku bahwa perasaannya tak akan mungkin berubah kepadaku. Aku pun sempat meminta dia mencari wanita yang lebih baik daripada aku dan dapat diterima baik oleh keluarganya. Namun, dia hanya meyakinkanku bahwa akulah yang terbaik, bahwa permasalahan bukanlah berada pada diri aku.
Mencoba memberanikan diri, aku meminta dia mempertemukan aku dengan ibunya. Alhasil setelah mendengar penjelasan dari ibunya, kita pun mengerti dan memutuskan untuk berteman. Namun, tak tau kenapa, dan tak mengerti karena apa, kita kembali menjalin kasih. Untuk kali ini, kita mempunyai sedikit pencerahan dalam hubungan kita dan dukungan dari ayahnya.
Saat liburan, kami bersama teman-teman memutuskan untuk pergi ke Pare selama sebulan guna mengeksplor skill bahasa Inggris kami. Disana, dia pun memutuskan untuk kembali menyatakan ingin menikahiku lewat telfon kepada ayahnya. Ayahnya hanya bilang untuk membicarakan hal ini di rumah setibanya dia pulang. Aku khawatir memang, takut kalau kejadian dulu terulang lagi. Tapi, aku sadar, dia tak mungkin menyatakannya lagi sebelum berfikir panjang, terlebih kejadian dulu tak mungkin kami lupakan.
Setibanya dia di rumah. Memang bukan lagi tanggapan negative seperti dulu. Namun, mereka masih belum bisa mengizinkan kami menikah saat kuliah. Mereka mengizinkan kami menikah setelah lulus. Bahkan ayahnya bersedia memberi modal kami untuk membuka bisnis sebagai tabungan kami untuk menikah.
Sebenarnya, dia rela untuk kerja banting tulang hanya untuk menafkahiku, dan aku pun rela jikalau harus berhenti kuliah bila uang yang ada hanya cukup untuk membiayai kuliah salah satu dari kami. Kami pun percaya jikalau kita sudah menikah, pasti rezeki datang darimana saja karena pernikahan memang salah satu pintu rezeki. Bukankah kerang pun Allah kasih rezeki ? Namun, pemikiran orang tua memang berbeda. Wajar memang. Namun, kami tetap tidak mengerti, kenapa sulit sekali bagi mereka untuk memberikan izin kami untuk menikah saat kuliah, sedangkan ajaran agama menganjurkan orang tua segera menikahkan anaknya setelah dia baligh ? bukankah menikah dini itu lebih baik daripada kita harus berlarut-larut berpacaran yang justru memperbesar peluang kita untuk melakukan perbuatan dosa ? sekarang kami hanya bisa berdo’a dan berusaha mencari pekerjaan atau membuka usaha bisnis yang sekiranya dapat membuat orang tua percaya kalau kami telah mampu lepas dari orang tua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar