Ini tulisan perdana ku di blog
ini. Awalnya, aku bingung.. apa yang harus aku tulis ? aku tak punya ide apapun
yang dapat aku tuangkan dalam sebuah tulisan. Namun, aku sadar… lewat
tulisanlah aku mampu menuangkan segala asa, pikiran, dan keluh kesah yang sudah
hampir membuat otakku meledak layaknya bom yang menewaskan ratusan orang di
Palestina.. terlalu berlebihan memang..
Baiklah,, langsung saja..
Aku seorang mahasiswi jurusan
bahasa Inggris di suatu perguruan tinggi siap negeri.. awalnya, tak ada sedikit
keinginan pun untuk mengenyam pendidikan di universitas ini.. ya, aku punya ego
dan keinginan tinggi untuk kuliah di suatu universitas yang dipandang “wah”
oleh orang, seperti UI, UNPAD, UPI, dan perguruan tinggi negeri lainnya. Namun,
nasib berkata lain yang mengharuskan aku mengeyam pendidikan di universitas
yang tidak sedikit pun aku lirik dan bahkan sempat aku kecam ini.. namun,
universitas inilah yang menjumpakan aku dengannya..
Tak sedikit pun terpikirkan
olehku untuk mendapatkan seorang kekasih di perguruan tinggi, yang aku
gambarkan hanyalah kuliah, beasiswa, dan lulus dengan IPK tinggi lalu
melanjutkan ke S2 ke perguruan tinggi negeri yang aku inginkan sejak awal..
namun, mungkin ini sudah ditakdirkan oleh-Nya, aku berjumpa dengan seseorang
yang (mungkin) akan mendampingi hidupku..
Kita memang sekelas, namun tak
sedikit pun pernah berbincang, sebelum kejadian itu. Saat itu aku memutuskan
untuk mengikuti organisasi dan ternyata dia pun ikut serta dalam organisasi itu,
yang mengharuskan kita bertemu dalam satu kelas saat placement test. Menurut pengakuannya
dia tertarik kepadaku saat pertama bertemu, yang sebenarnya aku pun merasakan
hal yang sama. Namun bedanya, aku langsung tak menggubris perasaan yang orang
sebut “love at the first sight”.
Berjalannya waktu, dia pun
menyatakan perasaannya. Aku memang tak heran dia menyatakan itu, karena dari
gerak geriknya pun aku dapat merasakan kalau dia menyukaiku. Namun tetap saja
untuk menjalin sebuah hubungan itu perlu pemikiran yang matang, terlebih lagi
kita satu kelas. Seiring berputarnya waktu dan satu pertengkaran antara kami
yang membuat dia meminta aku menjadi wanitanya, dan anehnya aku pun hanya
menjawab “baiklah kalau itu maumu”.
Saat ini, kami telah menjalin
hubungan selama 1 tahun 4 bulan. Kemana pun aku pergi, dia selalu menemaniku. Ya,
aku memang sangat merasakan ketulusannya. Dia rela melakukan apa pun untukku. Inilah
yang membuat orang berpikir kami pasangan yang paling romantis dan serasi. Dimanapun
ada aku, disitu ada dia. Bahkan dimana
pun kami berada, entah di kelas, di organisasi, dan di tempat lainnya mereka
menyebut kami “best couple”. Namun, hubungan kami tak seindah yang mereka kira.
Jujur, untuk masalah internal
seperti perselingkuhan, kejujuran, kepercayaan dan lainnya tak ada sedikit pun
di dalam hubungan kami. Dari awal hingga sekarang, kami tak pernah
menyembunyikan sedikit pun hal dalam hubungan kami, terlebih dia orang yang
tidak memiliki teman perempuan banyak, perempuan yang dia kenal adalah temanku,
dan dia bukan tipe orang yang menjalin komunikasi dengan perempuan lain di luar
jalur perkuliahan dan organisasi. Namun, tak ada gading yang tak retak. Tak ada
hubungan yang selalu berjalan mulus. Masalah kami muncul dari luar. Ya.. orang
tua.
Orang tuaku mengizinkan hubungan
aku dengannya dengan syarat menjaga kepercayaan mereka. Namun, tidak dengan
orang tuanya. Hal ini berawal ketika dia menyatakan ingin menikahiku. Ya, ini
memang keinginan kami berdua untuk segera menikah untuk menghindari sesuatu hal
yang tak diharapkan. Terjerumus ke dalam jurang kenistaan. Bukannya tanggapan
positif yang dia terima, justru sebaliknya. Bahkan, dia sempat dituduh telah
menyentuhku karena ingin segera menikahiku. Untunglah, dia dapat menjelaskan
bahwa dia tidak pernah sekali pun menyentuhku. Namun, permasalahan tidak hanya
disitu, dia menyatakan padaku bahwa orang tuanya menginginkan hubungan kami
diakhiri, bahkan untuk berteman pun kami tak bisa. Sakit hati tentunya,
menangis iya. Namun, dia tetap meyakinkanku bahwa dia akan tetap melamarku
setelah lulus. Namun, siapa yang akan jamin bahwa perasaan kita tak akan
berubah? Dia hanya meyakinkanku bahwa perasaannya tak akan mungkin berubah
kepadaku. Aku pun sempat meminta dia mencari wanita yang lebih baik daripada
aku dan dapat diterima baik oleh keluarganya. Namun, dia hanya meyakinkanku
bahwa akulah yang terbaik, bahwa permasalahan bukanlah berada pada diri aku.
Mencoba memberanikan diri, aku
meminta dia mempertemukan aku dengan ibunya. Alhasil setelah mendengar
penjelasan dari ibunya, kita pun mengerti dan memutuskan untuk berteman. Namun,
tak tau kenapa, dan tak mengerti karena apa, kita kembali menjalin kasih. Untuk
kali ini, kita mempunyai sedikit pencerahan dalam hubungan kita dan dukungan
dari ayahnya.
Saat liburan, kami bersama
teman-teman memutuskan untuk pergi ke Pare selama sebulan guna mengeksplor
skill bahasa Inggris kami. Disana, dia pun memutuskan untuk kembali menyatakan
ingin menikahiku lewat telfon kepada ayahnya. Ayahnya hanya bilang untuk
membicarakan hal ini di rumah setibanya dia pulang. Aku khawatir memang, takut
kalau kejadian dulu terulang lagi. Tapi, aku sadar, dia tak mungkin menyatakannya
lagi sebelum berfikir panjang, terlebih kejadian dulu tak mungkin kami lupakan.
Setibanya dia di rumah. Memang bukan
lagi tanggapan negative seperti dulu. Namun, mereka masih belum bisa
mengizinkan kami menikah saat kuliah. Mereka mengizinkan kami menikah setelah
lulus. Bahkan ayahnya bersedia memberi modal kami untuk membuka bisnis sebagai
tabungan kami untuk menikah.
Sebenarnya, dia rela untuk kerja
banting tulang hanya untuk menafkahiku, dan aku pun rela jikalau harus berhenti
kuliah bila uang yang ada hanya cukup untuk membiayai kuliah salah satu dari
kami. Kami pun percaya jikalau kita sudah menikah, pasti rezeki datang darimana
saja karena pernikahan memang salah satu pintu rezeki. Bukankah kerang pun
Allah kasih rezeki ? Namun, pemikiran orang tua memang berbeda. Wajar memang. Namun,
kami tetap tidak mengerti, kenapa sulit sekali bagi mereka untuk memberikan
izin kami untuk menikah saat kuliah, sedangkan ajaran agama menganjurkan orang
tua segera menikahkan anaknya setelah dia baligh ? bukankah menikah dini itu
lebih baik daripada kita harus berlarut-larut berpacaran yang justru
memperbesar peluang kita untuk melakukan perbuatan dosa ? sekarang kami hanya
bisa berdo’a dan berusaha mencari pekerjaan atau membuka usaha bisnis yang
sekiranya dapat membuat orang tua percaya kalau kami telah mampu lepas dari
orang tua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar