Sabtu, 09 Maret 2013

Apa itu Cinta ?


Apa itu cinta?
Banyak orang yang tentu akan mendeskripsikan kata itu dengan berbeda..
Ada yang bilang cinta itu kata yang terdiri dari 5 huruf namun ribuan kata pun belum tentu mampu mendeskripsikannya secara keseluruhan..
Wikipedia pun menyatakan bahwa cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi..
Ada pula yang bilang cinta itu bagaikan kentut, yang ditahan sakit, dikeluarkan malu..
Bermacam-macam orang mendeskripsikan kata cinta..
Orang yang sedang dilanda asmara tentu akan meng-agungkan atas nama cinta. Berbeda dengan mereka yang sedang merana karena cinta, yang tentu akan mengecam kata cinta itu sendiri.
Namun, kata-kata yang dinyatakan Ibnu Qayyim Al-jauziyah lah yang tlah mampu membuatku mengerti makna cinta secara keseluruhan..

Orang yang dimabuk asmara
Bagaikan orang yang terkena panah kaki dan tangannya dengan kedalaman yang sungguh mengena
Jika dicabut kan terasa benar sakitnya
Jika dibiarkan kan terhambat gerak dan langkahnya
Sungguh sakit jika tak dihiraukan oleh yang dicinta
Bagaimana jika tak dihiraukan Sang Pencipta ?
Tatkala semua makhluk membutuhkan-Nya
Tak ada cinta yang benar-benar membuat sehat hati manusia
Kecuali cinta karena Allah dan Rasul-Nya
Setiap orang menginginkannya..
Namun sayang enggan meniti jalannya..
- Ibnu Qayyim Al-jauziyah-

Saat orang bertanya “which one do you choose between friendship and love?”
Hampir semua orang akan memilih friendship. Sama halnya teman-temanku kala ditanya seperti itu.. namun tidak dengan aku!
Ya.. tentu aku lebih memilih cinta daripada pertemanan. Tapi itu bukan berarti aku tak menghargai persahabatan atau bahkan tak butuh sahabat. Tak ada orang yang ingin hidup tanpa mempunyai sahabat bukan ? Tapi tentu tidak akan ada juga orang yang menginginkan hidup tanpa cinta. Bagaimana persahabatan akan tercipta tanpa adanya cinta ?
Makna cinta memang banyak disalah artikan oleh banyak orang. Banyak yang menganggap bahwa cinta itu ya tentang pacar atau orang yang disuka. Tidak ada yang salah memang. Namun, itu hanya bagian kecil dari orang yang kita beri cinta. Lalu bagaimana dengan sehabat ? orang tua ? saudara ? Pacar, Istri, atau Suami ? Rasul dan bahkan juga Allah ? Tentu kita membutuhkan cinta yang amat besar dalam menjalin hubungan dengan mereka. Akankah kita lebih memilih pertemanan daripada cinta ?
Lalu bagaimana dengan cinta yang salah ? Bagiku, tak ada cinta yang salah. Yang ada hanyalah diri kita yang tak mampu mengolah dan mengontrol cinta itu sebaik-baiknya. Hey.. cinta itu anugerah. Ya.. cinta itu anugerah bagi kita yang dapat mengontrol kadar cinta itu dengan sebaik-baiknya..
100% untuk Allah
95% untuk Rasulullah
90% untuk keluarga
85% untuk teman
Aku menulis ini semua bukan berarti aku sudah mengelola cinta dengan baik. Aku sama, belum bisa mengolahnya dengan baik. Aku belajar. Belajar untuk mencintai seseorang yang dicintai oleh Allah, karena aku ingin mencintainya karena Allah bukan karena nafsu. Aku pun ingin dicintai oleh Allah, karena aku ingin seseorang mencintaiku karena Allah bukan karena nafsu.

Jumat, 08 Maret 2013

Gagal itu.. mm.. Nikmat !


“Aku merasa gagal. Apa pun yang aku lakukan pasti berbuah kegagalan, tidak sepertimu yang begitu mudahnya mendapatkan segalanya. Mata kuliah cepat kau kuasai, IP tinggi slalu kau dapat. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi hasilnya selalu seperti ini” keluh dia terhadapku.
Sontak aku kaget mendengar ucapannya yang penuh dengan nada keputusasaan. Aku bingung harus menjawab apa. Aku bingung, rangkaian kata seperti apa yang dapat membangkitkan semangatnya kembali. Namun, aku tak mau apa yang aku katakan padanya adalah sesuatu yang tlah aku rangkai sebaik dan seindah mungkin. Aku menginginkannya senatural mungkin, sejujur mungkin, dan sesimple mungkin yang akan mempermudahnya menyerap apa maksud dari ucapanku.
“Segala sesuatu itu butuh proses kan?” ucap aku padanya.
“Ya, tapi aku heran, aku berusaha semaksimal mungkin, tapi aku tak juga mendapatkan hasil yang maksimal. Aku butuh usaha yang extra dibandingkan kamu dan teman-teman yang lainnya.”
Aku hanya bisa tersenyum dan berkata “sabar”.
Aku yakin, tidak hanya dia yang merasakan hal itu, orang-orang diluar sana pun pasti banyak yang merasakan hal itu, termasuk aku.
Siapa bilang aku slalu mendapatkan apa yang aku mau ? Siapa bilang aku lebih mudah menyerap pelajaran dibanding dia ? aku pun sama, pernah merasakan kegagalan.
Ya.. memang dari SD-SMP peringkatku antara pertama dan kedua. Bahkan guru-gurupun dekat dan aku dispesialkan saat itu. Namun tidak saat SMA. Aku sama seperti dia, slalu merasakan kegagalan.
Aku bingung, aku heran, aku lelah, mengapa aku sulit sekali untuk menyerap pelajaran ? aku hanya sekolah, lalu pulang tanpa merasakan mendapat pengetahuan yang baru. Lalu apa yang aku dapat ?
Aku pun menyadari, kesulitan dalam beradaptasi inilah yang membuat aku sulit dalam menerima pelajaran. Aku masih merasa asing di sekolah ku ini. Mungkin karena jenjang yang lebih tinggi dan orang-orang di sekeliling yang baru aku kenal. Ya,, saat itu hanya aku dan seorang temanku yang bersekolah disitu.
Seharusnya, bila aku kesulitan beradaptasi aku harus berusaha mengadaptasikan diri. Namun, itu adalah kesalahan aku. Aku pun tak mengerti, aku mempunyai karakter sanguine. Dimana karakter ini adalah karakter yang ceria, cerewet, mudah bergaul, dan slalu ingin eksis. Namun, itu tak berlaku saat aku mengenyam pendidikan di SMA. Karena sulitnya beradaptasi inilah yang membuatku malas.
Aku tak pernah belajar walau esok harinya ada ulangan. Aku hanya belajar bila keesokan harinya adalah ulangan umum, bukan ulangan harian. Tentu kita bisa bayangkan, materi satu semester dan bahkan satu tahun (bila ulangan kenaikan kelas) harus dipelajari dalam satu malam. Tanpa ditanya pun kita sudah tau hasilnya.
Ya .. itulah masa-masa aku di SMA. Suram. Suram karena aku yang tak mau berusaha. Suram karena aku yang terlalu menganggap enteng sesuatu. Suram karena aku yang tak bisa focus dan selalu menganggap ilmu itu sesuatu yang dikompetisikan bukan dibutuhkan.
Namun seiringnya berjalan waktu dan selepas aku lulus dari SMA, aku sadar. Hasil yang baik tidak akan mungkin diperoleh tanpa adanya usaha dan proses yang baik. Dari semenjak saat itu, aku sudah meyakinkan diri untuk tidak mengulangi kebiasaan buruk aku saat di SMA. Sekarang, aku berusaha untuk menganggap ilmu itu adalah sesuatu yang dibutuhkan bukan dikompetisikan. Karena, bila kita menganggap ilmu itu untuk dikompetisikan, otomatis kita akan mudah menyerah dikala merasakan kegagalan. Berbeda dengan menganggap ilmu itu apa yang kita butuhkan, kita akan terus merasa kurang dan kurang lalu terus mencarinya karena kita membutuhkannya di dalam kehidupan kita.
“Usaha dulu deh.. baru bisa merasakan nikmatnya kegagalan”
“nikmat ?”
“Ya.. kegagalan itu nikmat bila kita bisa menjadikannya sesuatu hal yang mengontrol kita untuk meraih kesuksesan yang tertunda. Hidup itu ga asik kalau tidak merasakan gagal. Kesuksesan akan lebih manis bila melalui kegagalan. Bagaimana kita bisa tau kita sukses kalau tidak merasakan kegagalan terlebih dulu ? Bukankah orang bisa disebut sukses menjadi kaya kalau dia merasakan miskin dulu ? Bukankah gagal adalah sukses yang tertunda ? hehe..”

My Love is Too Strong


Ini tulisan perdana ku di blog ini. Awalnya, aku bingung.. apa yang harus aku tulis ? aku tak punya ide apapun yang dapat aku tuangkan dalam sebuah tulisan. Namun, aku sadar… lewat tulisanlah aku mampu menuangkan segala asa, pikiran, dan keluh kesah yang sudah hampir membuat otakku meledak layaknya bom yang menewaskan ratusan orang di Palestina..  terlalu berlebihan memang..
Baiklah,, langsung saja..
Aku seorang mahasiswi jurusan bahasa Inggris di suatu perguruan tinggi siap negeri.. awalnya, tak ada sedikit keinginan pun untuk mengenyam pendidikan di universitas ini.. ya, aku punya ego dan keinginan tinggi untuk kuliah di suatu universitas yang dipandang “wah” oleh orang, seperti UI, UNPAD, UPI, dan perguruan tinggi negeri lainnya. Namun, nasib berkata lain yang mengharuskan aku mengeyam pendidikan di universitas yang tidak sedikit pun aku lirik dan bahkan sempat aku kecam ini.. namun, universitas inilah yang menjumpakan aku dengannya..
Tak sedikit pun terpikirkan olehku untuk mendapatkan seorang kekasih di perguruan tinggi, yang aku gambarkan hanyalah kuliah, beasiswa, dan lulus dengan IPK tinggi lalu melanjutkan ke S2 ke perguruan tinggi negeri yang aku inginkan sejak awal.. namun, mungkin ini sudah ditakdirkan oleh-Nya, aku berjumpa dengan seseorang yang (mungkin) akan mendampingi hidupku..
Kita memang sekelas, namun tak sedikit pun pernah berbincang, sebelum kejadian itu. Saat itu aku memutuskan untuk mengikuti organisasi dan ternyata dia pun ikut serta dalam organisasi itu, yang mengharuskan kita bertemu dalam satu kelas saat placement test. Menurut pengakuannya dia tertarik kepadaku saat pertama bertemu, yang sebenarnya aku pun merasakan hal yang sama. Namun bedanya, aku langsung tak menggubris perasaan yang orang sebut “love at the first sight”.
Berjalannya waktu, dia pun menyatakan perasaannya. Aku memang tak heran dia menyatakan itu, karena dari gerak geriknya pun aku dapat merasakan kalau dia menyukaiku. Namun tetap saja untuk menjalin sebuah hubungan itu perlu pemikiran yang matang, terlebih lagi kita satu kelas. Seiring berputarnya waktu dan satu pertengkaran antara kami yang membuat dia meminta aku menjadi wanitanya, dan anehnya aku pun hanya menjawab “baiklah kalau itu maumu”.
Saat ini, kami telah menjalin hubungan selama 1 tahun 4 bulan. Kemana pun aku pergi, dia selalu menemaniku. Ya, aku memang sangat merasakan ketulusannya. Dia rela melakukan apa pun untukku. Inilah yang membuat orang berpikir kami pasangan yang paling romantis dan serasi. Dimanapun ada aku, disitu ada dia.  Bahkan dimana pun kami berada, entah di kelas, di organisasi, dan di tempat lainnya mereka menyebut kami “best couple”. Namun, hubungan kami tak seindah yang mereka kira.
Jujur, untuk masalah internal seperti perselingkuhan, kejujuran, kepercayaan dan lainnya tak ada sedikit pun di dalam hubungan kami. Dari awal hingga sekarang, kami tak pernah menyembunyikan sedikit pun hal dalam hubungan kami, terlebih dia orang yang tidak memiliki teman perempuan banyak, perempuan yang dia kenal adalah temanku, dan dia bukan tipe orang yang menjalin komunikasi dengan perempuan lain di luar jalur perkuliahan dan organisasi. Namun, tak ada gading yang tak retak. Tak ada hubungan yang selalu berjalan mulus. Masalah kami muncul dari luar. Ya.. orang tua.
Orang tuaku mengizinkan hubungan aku dengannya dengan syarat menjaga kepercayaan mereka. Namun, tidak dengan orang tuanya. Hal ini berawal ketika dia menyatakan ingin menikahiku. Ya, ini memang keinginan kami berdua untuk segera menikah untuk menghindari sesuatu hal yang tak diharapkan. Terjerumus ke dalam jurang kenistaan. Bukannya tanggapan positif yang dia terima, justru sebaliknya. Bahkan, dia sempat dituduh telah menyentuhku karena ingin segera menikahiku. Untunglah, dia dapat menjelaskan bahwa dia tidak pernah sekali pun menyentuhku. Namun, permasalahan tidak hanya disitu, dia menyatakan padaku bahwa orang tuanya menginginkan hubungan kami diakhiri, bahkan untuk berteman pun kami tak bisa. Sakit hati tentunya, menangis iya. Namun, dia tetap meyakinkanku bahwa dia akan tetap melamarku setelah lulus. Namun, siapa yang akan jamin bahwa perasaan kita tak akan berubah? Dia hanya meyakinkanku bahwa perasaannya tak akan mungkin berubah kepadaku. Aku pun sempat meminta dia mencari wanita yang lebih baik daripada aku dan dapat diterima baik oleh keluarganya. Namun, dia hanya meyakinkanku bahwa akulah yang terbaik, bahwa permasalahan bukanlah berada pada diri aku.
Mencoba memberanikan diri, aku meminta dia mempertemukan aku dengan ibunya. Alhasil setelah mendengar penjelasan dari ibunya, kita pun mengerti dan memutuskan untuk berteman. Namun, tak tau kenapa, dan tak mengerti karena apa, kita kembali menjalin kasih. Untuk kali ini, kita mempunyai sedikit pencerahan dalam hubungan kita dan dukungan dari ayahnya.
Saat liburan, kami bersama teman-teman memutuskan untuk pergi ke Pare selama sebulan guna mengeksplor skill bahasa Inggris kami. Disana, dia pun memutuskan untuk kembali menyatakan ingin menikahiku lewat telfon kepada ayahnya. Ayahnya hanya bilang untuk membicarakan hal ini di rumah setibanya dia pulang. Aku khawatir memang, takut kalau kejadian dulu terulang lagi. Tapi, aku sadar, dia tak mungkin menyatakannya lagi sebelum berfikir panjang, terlebih kejadian dulu tak mungkin kami lupakan.
Setibanya dia di rumah. Memang bukan lagi tanggapan negative seperti dulu. Namun, mereka masih belum bisa mengizinkan kami menikah saat kuliah. Mereka mengizinkan kami menikah setelah lulus. Bahkan ayahnya bersedia memberi modal kami untuk membuka bisnis sebagai tabungan kami untuk menikah.
Sebenarnya, dia rela untuk kerja banting tulang hanya untuk menafkahiku, dan aku pun rela jikalau harus berhenti kuliah bila uang yang ada hanya cukup untuk membiayai kuliah salah satu dari kami. Kami pun percaya jikalau kita sudah menikah, pasti rezeki datang darimana saja karena pernikahan memang salah satu pintu rezeki. Bukankah kerang pun Allah kasih rezeki ? Namun, pemikiran orang tua memang berbeda. Wajar memang. Namun, kami tetap tidak mengerti, kenapa sulit sekali bagi mereka untuk memberikan izin kami untuk menikah saat kuliah, sedangkan ajaran agama menganjurkan orang tua segera menikahkan anaknya setelah dia baligh ? bukankah menikah dini itu lebih baik daripada kita harus berlarut-larut berpacaran yang justru memperbesar peluang kita untuk melakukan perbuatan dosa ? sekarang kami hanya bisa berdo’a dan berusaha mencari pekerjaan atau membuka usaha bisnis yang sekiranya dapat membuat orang tua percaya kalau kami telah mampu lepas dari orang tua.