“Aku merasa gagal. Apa pun yang
aku lakukan pasti berbuah kegagalan, tidak sepertimu yang begitu mudahnya
mendapatkan segalanya. Mata kuliah cepat kau kuasai, IP tinggi slalu kau dapat.
Aku sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi hasilnya selalu seperti ini” keluh
dia terhadapku.
Sontak aku kaget mendengar
ucapannya yang penuh dengan nada keputusasaan. Aku bingung harus menjawab apa.
Aku bingung, rangkaian kata seperti apa yang dapat membangkitkan semangatnya kembali.
Namun, aku tak mau apa yang aku katakan padanya adalah sesuatu yang tlah aku
rangkai sebaik dan seindah mungkin. Aku menginginkannya senatural mungkin,
sejujur mungkin, dan sesimple mungkin yang akan mempermudahnya menyerap apa
maksud dari ucapanku.
“Segala sesuatu itu butuh proses kan?” ucap aku padanya.
“Ya, tapi aku heran, aku berusaha
semaksimal mungkin, tapi aku tak juga mendapatkan hasil yang maksimal. Aku butuh
usaha yang extra dibandingkan kamu dan teman-teman yang lainnya.”
Aku hanya bisa tersenyum dan
berkata “sabar”.
Aku yakin, tidak hanya dia yang
merasakan hal itu, orang-orang diluar sana pun pasti banyak yang merasakan hal itu, termasuk aku.
Siapa bilang aku slalu mendapatkan
apa yang aku mau ? Siapa bilang aku lebih mudah menyerap pelajaran dibanding
dia ? aku pun sama, pernah merasakan kegagalan.
Ya.. memang dari SD-SMP
peringkatku antara pertama dan kedua. Bahkan guru-gurupun dekat dan aku
dispesialkan saat itu. Namun tidak saat SMA. Aku sama seperti dia, slalu
merasakan kegagalan.
Aku bingung, aku heran, aku
lelah, mengapa aku sulit sekali untuk menyerap pelajaran ? aku hanya sekolah,
lalu pulang tanpa merasakan mendapat pengetahuan yang baru. Lalu apa yang aku
dapat ?
Aku pun menyadari, kesulitan
dalam beradaptasi inilah yang membuat aku sulit dalam menerima pelajaran. Aku masih
merasa asing di sekolah ku ini. Mungkin karena jenjang yang lebih tinggi dan
orang-orang di sekeliling yang baru aku kenal. Ya,, saat itu hanya aku dan
seorang temanku yang bersekolah disitu.
Seharusnya, bila aku kesulitan
beradaptasi aku harus berusaha mengadaptasikan diri. Namun, itu adalah
kesalahan aku. Aku pun tak mengerti, aku mempunyai karakter sanguine. Dimana karakter
ini adalah karakter yang ceria, cerewet,
mudah bergaul, dan slalu ingin eksis.
Namun, itu tak berlaku saat aku mengenyam pendidikan di SMA. Karena sulitnya
beradaptasi inilah yang membuatku malas.
Aku tak pernah belajar walau esok
harinya ada ulangan. Aku hanya belajar bila keesokan harinya adalah ulangan
umum, bukan ulangan harian. Tentu kita bisa bayangkan, materi satu semester dan
bahkan satu tahun (bila ulangan kenaikan kelas) harus dipelajari dalam satu
malam. Tanpa ditanya pun kita sudah tau hasilnya.
Ya .. itulah masa-masa aku di
SMA. Suram. Suram karena aku yang tak mau berusaha. Suram karena aku yang
terlalu menganggap enteng sesuatu. Suram karena aku yang tak bisa focus dan
selalu menganggap ilmu itu sesuatu yang dikompetisikan bukan dibutuhkan.
Namun seiringnya berjalan waktu
dan selepas aku lulus dari SMA, aku sadar. Hasil yang baik tidak akan mungkin
diperoleh tanpa adanya usaha dan proses yang baik. Dari semenjak saat itu, aku
sudah meyakinkan diri untuk tidak mengulangi kebiasaan buruk aku saat di SMA. Sekarang,
aku berusaha untuk menganggap ilmu itu adalah sesuatu yang dibutuhkan bukan
dikompetisikan. Karena, bila kita menganggap ilmu itu untuk dikompetisikan,
otomatis kita akan mudah menyerah dikala merasakan kegagalan. Berbeda dengan
menganggap ilmu itu apa yang kita butuhkan, kita akan terus merasa kurang dan
kurang lalu terus mencarinya karena kita membutuhkannya di dalam kehidupan
kita.
“Usaha dulu deh.. baru bisa merasakan nikmatnya kegagalan”
“nikmat ?”
“Ya.. kegagalan itu nikmat bila kita bisa menjadikannya sesuatu hal
yang mengontrol kita untuk meraih kesuksesan yang tertunda. Hidup itu ga asik
kalau tidak merasakan gagal. Kesuksesan akan lebih manis bila melalui kegagalan. Bagaimana kita bisa tau kita sukses kalau tidak merasakan kegagalan terlebih dulu ? Bukankah orang bisa disebut sukses menjadi kaya kalau dia merasakan miskin dulu ? Bukankah
gagal adalah sukses yang tertunda ? hehe..”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar